Posts

Internet Membuat Masyarakat Makin Jauh dari Agama?

Image
Isu agama dalam kemajuan internet bisa jadi belum banyak didalami para peneliti. Beberapa penelitian terkait agama, malah mengaitkan agama dengan kebiasan menonton pornografi, misalnya. Dalam papernya, Samuel L. Perry seorang peneliti di University of Oklahoma memaparkan bahwa : Those who used pornography at the highest frequencies seemed to be more religious in terms of prayer frequency and worship attendance than those who used pornography at more moderate levels. Beberapa waktu yang lalu, melalui media sosial Twitter saya sempat menanyakan: When people think about God, do they feel or act as if they are being monitored? Pertanyaan tersebut tentu tak mudah untuk dijawab. Berbagai faktor membuat manusia khususnya mereka yang aktif di internet “melupakan Tuhan” sejenak demi sesuatu yang mereka harap dapatkan di internet. Tentu saja tidak hanya di internet, perilaku keseharian kita cenderung menunjukkan bahwa kita lupa sedang diawasi oleh Tuhan. Lalu bagaimana intern...

Ketika Blokir (masih) Jadi Senjata Penguasa

Image
Ketika Blokir (masih) Jadi Senjata Penguasa Apa itu blokir? Apa itu sensor? Sebuah pertanyaan yang tidak perlu ada jawaban. Bila Anda sempat hidup di zaman orde baru, blokir atau breidel atau sensor mungkin kata yang akrab di telinga karena sedemikian seringnya sensor dilakukan pemerintah Orde Baru. Media massa misalnya bila tak sejalan dengan penguasa, media massa tersebut bisa dibreidel seenak udel penguasa. Nah sekarang di zaman internet apakah pemerintah masih menggunakan sensor? Ternyata penguasa dari dulu tak banyak berubah. Di zaman digital, di mana kewenangan penguasa dicincang untuk dijadikan olok-olok oleh internet, blokir atau sensor masih menjadi senjata yang sering digunakan penguasa untuk memaksakan kehendak. Ancaman blokir atau sensor terhadap layanan sering menjadi momok yang menakutkan sehingga membuat layanan di zaman digital menurut. Saya ingat sebuah kalimat di Catatan Pinggir GM (kira-kira seperti ini): Sensor itu seperti membunuh nyamuk deng...

Fatwa MUI, Sebaran Hoax, Fitnah dan Ujaran Kebencian

Image
Hampir setahun yang lalu, saya datang ke gedung Kominfo untuk menghadiri rilis sebuah fatwa yang saya rasa waktu itu merupakan kata putus untuk banyaknya sebaran hoax, fitnah, bullying, namimah (di antaranya) di media sosial Indonesia. Fatwa itu disebut dengan Hukum dan Pedoman Bermuamalah di Media Sosial. Waktu itu, bulan Ramadan, bulan suci dan rilis fatwa ini di bulan Ramadan diharapkan sebagai pertanda bahwa fatwa ini penting untuk segera dilaksanakan umat Islam di Indonesia. Hampir setahun kemudian, hasilnya? Ah sudahlah. Sedikit saya ceritakan latar belakang mengapa Fatwa MUI Nomor 24 tentang Hukum dan dan Pedoman Bermuamalah di Media Sosial ini penting. Kita kembali ke data. Penduduk Indonesia saat ini berjumlah sekitar 262 juta, sebanyak 132 juta merupakan pengguna internet. Oleh karena sebagian besar orang Indonesia beragama Islam, bisa disimpulkan bahwa pengguna internet Indonesia sebagian besar juga beragama Islam.  Dengan banyaknya pengguna internet ya...

Catatan 2017: Ketika Opini Dilawan Persekusi

Image
Ketika Opini Dilawan Persekusi Media sosial Indonesia sepanjangan tahun 2017 menyajikan banyak cerita. Ada beberapa cerita yang penting, ada banyak trending topic di Twitter Indonesia, namun satu yang sangat terasa adalah banyaknya kabar palsu, fabrikasi fakta, fitnah, makian dan berbagai hal negatif lainnya. Sepanjangan tahun 2017, kebebasan berpendapat di media sosial di Indonesia secara keseluruhan jauh lebih baik dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Bahkan bisa disimpulkan bahwa media sosial di Indonesia cenderung lebih bebas sehingga efek negatif kebebasan ini tak terelakkan. Sedikit kita tengok ke belakang, sebelum politik merasuk ke internet khususnya media sosial, bisadikatakan situasi media sosial di Indonesia baik-baik saja. Hal ini bisa kita lihatsebelum tahun 2012. Situasi media sosial di Indonesia saya rasa jauh lebih sejuk dibandingkan tahun 2017, di mana para pengguna belum terekspos oleh ber...

Ke Bengkulu Ngopi Sambil Menikmati Sunset dan Jejak di Fort Marlborough

Image
Welcome to Bengkulu Ke Bengkulu untuk ngopi? Bengkulu cukup dekat dari Jakarta, hanya memakan waktu 50 menit jika menggunakan pesawat terbang dari bandara Sukarno-Hatta ke bandara Fatmawati Sukarno di Bengkulu. Kota Bengkulu berada di depan samudra Indonesia. Cuaca sepertinya cenderung agak panas layaknya kota-kota di pinggir pantai di mana suhu berkisar sekitar 30 derajat celsius.  Kota Bengkulu juga rawan gempa. Dari percakapan dengan supir yang mengantar ke mana-mana di Bengkulu dapat saya simpulkan bahwa masyarakat kota Bengkulu sudah sangat terbiasa dengan gempa sehingga bangunan pun tak ada yang terlalu tinggi. Hotel misalnya, cuma 6 lantai. Demikianlah pada hari Senin (4/12) saya menjejakkan kaki di Bengkulu. Pertama tentu di bandara Fatmawati Sukarno yang disebut sebagai bandara internasional. Bandara ini cukup bagus, fasilitas lengkap dan tentu tak serumit bandara Sukarno-Hatta. Kalau turun dari pesawat langsung menuju ruang kedatangan dan bisa langsung kelu...